BREAKING NEWS

Main Slider

5/Food/slider-tag
Tampilkan postingan dengan label Games. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Games. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2020

Melatih Kerjasama Anak

Bekerjasama merupakan salah satu hal yang diperlukan dan dibutuhkan oleh siapapun dalam melakukan setiap aktivitas. Tidak hanya orang yang bekerja, anak-anak juga memerlukan kerjasama dalam melaksanakan aktivitasnya. Seperti misalnya bekerjasama saat melaksanakan tugas piket, bekerjasama saat menyelesaikan tugas kelompok dan berbagai kerjasama lainnya yang biasanya ada dalam proses pembelajaran.

Kemampuan anak-anak dalam bekerjasama tentu tidak muncul begitu saja. Sikap bekerjasama akan muncul ketika anak sudah terbiasa. Melatih kerjasama pada anak tidak hanya dilakukan saat jam pelajaran di kelas, tetapi juga dapat dilakukan di luar jam pelajaran. Contohnya pada kegiatan Camping Day. Camping merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran dimana pada saat Camping, anak-anak akan mengaplikasikan ilmu yang didapatnya selama di dalam kelas.

Kegiatan Camping tentu berbeda dengan kegiatan belajar di dalam kelas yang memerlukan buku sebagai sarana belajar. Kemampuan bekerjasama dan sosialisasilah yang diperlukan anak-anak saat Camping. Banyak kegiatan yang berguna untuk memunculkan kedua sifat tersebut pada anak. Contohnya adalah saat akan memasang tenda, anak-anak yang berada dalam satu kelompok akan bekerjasama untuk mendirikan tendanya masing-masing, pada saat seperti ini anak-anak mau tidak mau harus bekerjasama untuk saling membantu satu sama lain.

Tidak hanya saat mendirikan tenda, ada saatnya anak-anak akan bermain games dalam kelompok. Saat games kelompok, yang diperlukan tentunya adalah bekerjasama agar mampu menyelesaikan permainan dengan baik. Permainan games kelompok tidak hanya berguna untuk melatih kerjasama, tetapi juga dapat menumbuhkan keberanian pada diri anak dan sikap optimis dalam menghadapi suatu persaingan. Sementara itu, guru tetap harus memberikan pengertian bahwa menang atau kalah dalam permainan adalah sesuatu hal biasa dan yang terpenting adalah sudah berani untuk mencoba.

Oleh : Ari Rahmawati, S. Sos

======================================================================================
Practicing Child Collaboration

Working together is one thing that is needed and needed by anyone in carrying out every activity. Not only people who work, children also need cooperation in carrying out their activities. For example cooperating when carrying out picket assignments, cooperating when completing group assignments and various other collaborations that normally exist in the learning process.

The ability of children to cooperate certainly does not just emerge. The attitude of cooperation will emerge when the child is used. Coaching cooperation with children is not only done during class time in class, but can also be done outside of class time. For example on Camping Day activities. Camping is one of the activities carried out outside of class hours where when camping, children will apply the knowledge they get during class.

Camping activities are certainly different from learning activities in the classroom that require books as a learning tool. The ability to cooperate and socialize that is needed by children when camping. Many activities are useful for bringing up these two characteristics in children. For example, when setting up tents, children who are in a group will work together to set up their respective tents, at times like these children will inevitably have to work together to help one another.

Not only when setting up a tent, there are times when children will play games in groups. When it comes to group games, what is certainly needed is to work together to be able to finish the game well. Group games are not only useful for training cooperation, but also can foster children's courage and optimism in the face of competition. Meanwhile, the teacher still has to give an understanding that winning or losing in the game is something normal and most importantly is already brave to try.

By: Ari Rahmawati, S. Sos

Rabu, 11 Maret 2020

Manfaat Bermain Tarik Tambang Bagi Anak Usia Dini

Anak aktif sangat suka aktivitas pembelajaran yang dikemas dalam bentuk permainan. Hal ini tampak pada anak-anak berusia 4-6 tahun atau memasuki masa kanak kanak. Pada masa usia ini, bermain jadi stimulus paling besar dalam keseharian anak. Jadi tak heran kalau anak juara bisa seharian berlarian ke sana kemari. Aktivitas fisik mempunyai banyak manfaat bagi anak. Misalnya saja kemampuan motorik seperti berjalan dan berlari akan terlatih seiring banyaknya aktivitas fisik. Durasi aktivitas fisik yang lebih lama juga akan mengasah stamina anak agar tak cepat lelah. Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan anak bersama kawan-kawan sebayanya, akan melatih kemampuannya bersosialisasi. Misalnya saja saat mereka bermain bersama.Tumbuh kembang anak akan semakin bagus dengan adanya aktivitas fisik yang mengasah ketangkasan.

Di TK IT Robbani memiliki kegiatan untuk mengasah kemampuan motorik kasar anak diantaranya kegiatan ketangkasan setiap hari senin, rabu, jumat. Salah satu kegiatan ketangkasan yang menarik untuk anak saat adalah tarik tambang.

Tarik tambang merupakan satu dari sekian banyak jenis permainan beregu yang sudah umum bahkan wajib dimainkan sebagai cabang lomba pada momen-momen seperti momen perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Permainan tarik tambang sudah dikenal bahkan sejak zaman penjajahan. Konon, bangsa Indonesia yang pada saat itu dijadikan pekerja paksa oleh Pemerintah Kolonial menjadikan tali tambang yang notabene digunakan untuk mengangkut bahan-bahan bangunan seperti pasir dan batu sebagai ‘mainan’ untuk mengisi waktu senggang, pun ajang adu kekuatan. Alhasil, jadilah lomba tarik tambang yang kini kita kenal.

Dibalik keseruan yang diperlihatkan pada setiap gelaran lomba tarik tambang, ada sejumlah manfaat yang bisa didapatkan oleh para pemainnya. Apa saja manfaat permainan tarik tambang? Simak informasinya berikut ini!

1. Melatih Kekompakan
Manfaat permainan tarik tambang yang pertama adalah untuk melatih kekompakan. Mengingat lomba tarik tambang adalah permainan yang dilakukan secara beregu, maka pastinya butuh kekompakan dari masing-masing anggota tim agar dapat memenangkan perlombaan ini. Kekompakan itu ditunjukkan saat anggota tim anak menentukan strategi, hingga saat ‘berjibaku’ menarik tali tambang. Nah, secara tidak langsung, kegiatan ini dapat melatih kekompakan di dalam sebuah tim, yang nantinya juga berlaku untuk kehidupan sehari-hari.

2. Melatih Kepemimpinan (Leadership)
Pada masing-masing regu, akan ada 1 (satu) orang anak yang bertindak sebagai pemimpin regu. Tugas dari si pemimpin regu ini mulai dari mengambil keputusan atas strategi apa yang nantinya akan digunakan, hingga menyemangati anggotanya agar dapat mengalahkan lawan.

3. Menumbuhkan Daya Juang
Bermain tarik tambang tak cukup hanya mengandalkan tenaga, tapi juga semangat juang untuk dapat meraih kemenangan. Mungkin ini juga yang menjadi esensi dari lomba tarik tambang tersebut.

4. Menumbuhkan Sikap Sportif
Namanya perlombaan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Hal ini juga berlaku untuk lomba tarik tambang. Hanya ada 2 (dua) kemungkinan yang akan anak hadapi: menang atau kalah. Di sinilah letak dari manfaat permainan tambang itu. Anak diajarkan untuk bisa bersikap sportif, baik ketika menang maupun kalah. Sikap sportif inilah yang diperlukan oleh semua manusia agar bisa tercipta harmoni di dalam kehidupan sosial.

5. Melatih Kekuatan Otot Tangan & Kaki
Sementara dari segi medis, manfaat permainan tarik tambang adalah untuk melatih kekuatan otot, utamanya otot tangan dan otot kaki. Pasalnya, lomba tarik tambang memang membutuhkan peran tangan (untuk menarik tali), dan kaki (untuk tumpuan tubuh). 
Otot tangan dan otot kaki yang kuat tentu saja memberikan sejumlah manfaat bagi tubuh, yakni:
   -Keseimbangan tubuh lebih baik
   -Memperbaiki postur tubuh
   -Meminimalisir risiko cedera
   -Meningkatkan metabolisme tubuh
   -Menambah kepercayaan diri

6. Menghilangkan Stres
Lomba tarik tambang menghadirkan suasana yang seru dan menggembirakan, apalagi jika tim anak tersebut keluar sebagai pemenangnya. Hal ini secara tidak langsung membantu Anak untuk mengusir rasa stres yang mungkin sedang dialami. 

Bersama dengan lomba khas 17 Agustus-an lainnya, tarik tambang bisa jadi solusi untuk Anda melepas penat akibat rutinitas sehari-hari

Oleh : Rahmah Fithriani

======================================================================================

Benefits of Playing Tug of War for Early Childhood

Active children really like learning activities that are packaged in the form of games. This is seen in children aged 4-6 years or entering childhood. At this age, playing becomes the biggest stimulus in a child's daily life. So it is not surprising that the champion child can run all day to and fro. Physical activity has many benefits for children. For example, motor skills such as walking and running will be trained as there is a lot of physical activity. A longer duration of physical activity will also hone a child's stamina so that he does not get tired. In addition, physical activities undertaken by children with peers, will practice their ability to socialize. For example, when they play together. Child development will be better with physical activity that hones dexterity.

In IT Robbani Kindergarten has activities to hone the children's gross motor skills including agility activities every day Monday, Wednesday, Friday. One of the interesting agility activities for children at the time is tug of war.

Tug of war is one of the many types of team games that are common and even must be played as a branch of the race at moments such as the celebration of the Republic of Indonesia's Independence Day.

The game of tug of war has been known even since colonial times. It is said that the Indonesian people who were then forced labor by the Colonial Government made a rope which in fact was used to transport building materials such as sand and stone as 'toys' to fill leisure time, even a competition for strength. As a result, be a tug of war contest that we now know.

1. Practicing Cohesiveness
The benefit of the first tug of war game is to practice cohesiveness. Since the tug-of-war competition is a team game, it certainly requires the cohesiveness of each team member in order to win this race. Cohesiveness is shown when the child team members determine the strategy, until when 'struggling' pulling the rope. Well, indirectly, this activity can train cohesiveness in a team, which later also applies to daily life.

2. Train Leadership
In each team, there will be 1 (one) child who acts as the team leader. The task of the team leader starts from making decisions on what strategy to use, to encouraging members to defeat their opponents.

3. Growing fighting power
Playing tug of war is not enough just to rely on energy, but also the fighting spirit to be able to achieve victory. Maybe this is also the essence of the tug-of-war contest.

4. Cultivating Sportsmanship
It's called a race, there must be someone who wins and someone who loses. This also applies to a tug of war contest. There are only 2 (two) possibilities that children will face: win or lose. Herein lies the benefit of the game mine. Children are taught to be sporty, both when they win or lose. This sportsmanship is needed by all humans to create harmony in social life.

5. Exercising the Strength of the Muscles of the Hands & Feet
While from a medical perspective, the benefits of the game of tug of war are to train the strength of muscles, especially the hand muscles and leg muscles. Because the tug-of-war competition indeed requires the role of the hand (to pull the rope), and legs (for the body support).
Strong hand muscles and leg muscles certainly provide a number of benefits for the body, namely:
   -Better body balance
   -Fixed body posture
   -Minimize the risk of injury
   -Increases body metabolism
   -Add confidence

6. Relieve Stress
The tug-of-war contest presents an exciting and exciting atmosphere, especially if the child's team wins. This indirectly helps the child to get rid of stresses that might be experienced.

Together with other typical competitions of the 17th of August, tug of war can be a solution for you to unwind due to your daily routine

By: Rahmah Fithriani

Minggu, 08 Maret 2020

33 Siswa Siswi SD IT Robbani Ikuti Wisuda Tahfidz Juz 30

Sabtu (7 Maret 2020) SD IT Robbani sukses mengelar acar wisuda tahfidz juz 30 untuk yang pertama kalinya. Acara ini berlangsung dengan meriah dan penuh haru. Wisuda Tahfidz juz 30 ini merupakan bentuk pengharagaan kepada siswa/i yang telah menyelesaikan hafalan juz 30 di sekolah dan boleh diikuti oleh semua siswa/i dari kelas 1 sampai kelas V. Untuk pertama kalinya wisuda tahfidz dilaksanakan dan diikuti oleh 33 siswa/i yang terdiri dari 3 orang kelas II, 6 orang kelas III, 14 orang kelas IV, dan  10 orang dari kelas V.

Dua minggu sebelumnya yaitu pada tanggal 22-23 februari 2020 lalu anak-anak sudah mengikuti acara Qur’an Camp guna mempersiapkan diri dalam mengikuti wisuda tahfidz ini. Pada acara tersebut anak-anak difokuskan untuk melakukan murojaah dengan didamping oleh ustadz dan ustadzah yang khusus dihadirkan untuk membimbing anak-anak dalam mengulang hafalan dan memperbaiki bacaan Al-qur’an dan kemudian dilanjutkan dengan menyetorkan hafalan juz 30 nya.

Acara wisuda tahfidz ini dimulai dari pukul 09.00-12.00 WIB, dan dibuka langsung oleh pengawas SD IT Robbani, Bapak Alwani Karim, S.Pd. Acara di isi dengan kegiatan murojaah juz 30 seluruh peserta wisuda yang disaksikan dan disimak langsung oleh para orang tua yang sudah hadir. Selain itu juga dalam acara ini ditampilkan sebuah video motivasi dalam menghafal Al-Qur’an, agar para orang tua, anak-anak, dan bahkan juga guru-guru SD IT Robbani lebih bersemangat lagi dalam menghafal Al-Qur’an dan memurojaahnya. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penampilan anak-anak menyanyikan lagu “Aku ingin jadi Hafidz Qur’an” secara bersama-sama. Suasana menjadi haru seketika tatkala anak-anak ditengah lagu memeluk para orang tua mereka yang duduk tepat didepan mereka. Semua anak dan orang tua berpelukan, terlihat sekali raut wajah bahagia sekaligus bangga para orang tua terhadap anak-anaknya yang sudah menyelesaikan hafalan juz 30 nya.

Selain memperoleh selempang penghargaan anak-anak juga diberikan penghargaan berupa sertifikat tanda telah selesai menghafal 1 juz. MasyaAllah tabarakallah buat semua anak-anak yang hari ini diwisuda,  semoga penghargaan yang telah diberikan bisa memacu motivasi untuk terus menghafal Al-Qur’an sampai 30 juz. Dan nantikan penghargaan yang sesungguhnya yang luar biasa dari Allah SWT nanti di syurganya aamiin…

Oleh : Tia Wulandari, S.Pd


=======================================================================================

33 Students of IT Robbani Elementary School Participate in Graduation Tahfidz Juz 30

Saturday (March 7, 2020) SD IT Robbani successfully arranged the graduation of Tahfidz juz 30 for the first time. This event took place lively and full of emotion. The graduation of Tahfidz juz 30 is a form of awarding students who have completed memorization of juz 30 in school and may be attended by all students from grade 1 to grade V. For the first time the graduation of tahfidz is carried out and is followed by 33 students consisting of from 3 people in class II, 6 people in class III, 14 people in class IV, and 10 people from class V.

Two weeks earlier, on 22-23 February 2020, the children had followed the Qur'an Camp to prepare themselves for this graduation. At the event the children were focused on doing murojaah accompanied by the chaplain and the chaplain that was specially presented to guide the children in rote repetition and improve the reading of the Qur'an and then proceed with depositing the 30 rote memorization.

The Tahfidz graduation program starts at 09.00-12.00 WIB and is opened by the supervisor of SD IT Robbani, Mr. Alwani Karim, S.Pd. The event was filled with murojaah juz 30 activities for all graduation participants who were witnessed and listened directly by the parents who were already present. In addition, this program also presented a motivational video for memorizing the Qur'an, so that parents, children, and even the teachers of SD IT Robbani were even more enthusiastic in memorizing the Qur'an and praising it. Then the program continued with the appearance of the children singing the song "I want to be a Hafidz Qur'an" together. The atmosphere was immediate when the children in the middle of the song hugged their parents who were sitting right in front of them. All children and parents cuddle, looking very happy and proud faces of the parents towards their children who have finished memorizing juz 30.

In addition to getting a sling, the children were also given an award in the form of a certificate marking the completion of 1 juz. MasyaAllah tabarakallah for all children graduated today, hopefully the award that has been given can spur motivation to continue memorizing the Qur'an until 30 juz. And look forward to the truly extraordinary appreciation from Allah SWT later on in the paradise of Aamiin ...

By: Tia Wulandari, S.Pd


Kelas Desain Grafis Robbani Learning Center (RLC)




Robbani Learning Center (RLC) kembali mengadakan kelas inspiratif, kali ini RLC akan membahas materi mengenai desain grafis. Berbeda dengan kelas inspiratif sebelumnya, Materi yang disampaikan pada kelas desain grafis ini disajikan dalam bentuk praktik langsung. Kelas desain grafis ini akan diadakan secara kontinyu yaitu sebanyak 4 kali pertemuan dengan kuota maksimal 6 orang dalam 1 kelas. Hal ini dikarenakan pembelajaran mengenai desain grafis memerlukan waktu yang lama. Pertemuan pertama telah dilaksanakan pada sabtu (7/3) di Aula SDIT Robbani Ogan ilir. Kelas ini dipandu langsung oleh coach Septa Ryan Hidayat selaku sekretaris Yayasan Generasi Robbani Sumatera Selatan sekaligus co-founder RLC. 

Panitia RLC sebelumnya telah menginformasikan kepada seluruh peserta desain grafis terkait perlengkapan yang harus disiapkan sebelum mengikuti kelas. Diantaranya yaitu laptop yang sudah diinstal aplikasi CorelDraw berikut spesifikasi laptop yang disarankan guna menunjang peserta dalam kelas. 

Kelas desain dimulai pukul 13:30, acara ini dihadiri oleh 6 peserta yang berasal dari berbagai latarbelakang, dari pelajar, mahasiswa maupun pegawai. Permulaan acara coach menjelaskan bahwa desain grafis saat ini menjadi hal yang banyak gunakan dalam berbagai sektor, tentunya karna saat ini kita telah memasuki era revolusi industri 4.0. Coach mengatakan “desain yang baik adalah desain yang informasinya tersampaikan jelas kepada orang yang melihatnya, setiap desainer memiliki ciri khas desain masing-masing. 

Selanjutnya Coach langsung memandu peserta untuk membuka laptop dan memulai memainkan aplikasi CorelDraw, dalam hal ini digunakan CorelDraw X7. Beberapa hal yang diperkenalkan dalam aplikasi CorelDraw yaitu pembuatan lembar kerja baru, pengenalan berbagai tools, penghilangan background pada objek bitmap, penggunaan text, juga teknik mewarnai objek. Coach menekankan bahwa setidaknya ada lebih kurang 4 tools yang harus benar-benar dikuasai para peserta untuk membuat sebuah desain. kemudian coach menampilkan sebuah desain logo suatu lembaga dalam lembar kerja CoelDraw kemudian peserta diminta untuk mengikuti coach mempraktekkan tahap demi tahap dalam pembuatannya. Hasil desain peserta kemudian di lihat satu persatu oleh coach. Hasilnya menunjukkan bahwa walaupun logo tujuan yang diperlihatkan dan yang dibuat oleh peserta adalah logo yang sama, namun desain yang dihasilkan setiap peserta berbeda, dikarenakan terdapat perbedaan latarbelakang peserta terkait pemahaman dan kemampuan dalam bidang desain grafis. 

Diakhir acara coach menyampaikan bahwa tidaklah mudah untuk menghasilkan desain yang baik, hal itu memerlukan latihan yang banyak sehingga kita akan terbiasa dalam menggunakan tools yang ada dalam CorelDraw. Selanjutnya akan diadakan pertemuan lanjutan kelas desain grafis pada minggu 
berikutnya. 




Oleh : Heta Utari, S.Kom

================================================================================


Grafic Design Class of Robbani Learning Center (RLC)

  
Robbani Learning Center (RLC) once again held an inspiring class, this time RLC will discuss material on graphic design. Unlike the previous inspirational classes, the material presented in this graphic design class is presented in the form of direct practice. This graphic design class will be held continuously with as many as 4 meetings with a maximum quota of 6 people in 1 class. This is because learning about graphic design requires a long time. The first meeting was held on Saturday (7/3) in the Hall of SDIT Robbani Ogan ilir. This class is guided directly by Septa coach Ryan Hidayat as secretary of Generasi Robbani Foundation in South Sumatra and RLC co-founder.

The RLC committee has previously informed all graphic design participants regarding the equipment that must be prepared before attending the class. Among them are laptops that have the CorelDraw application installed along with recommended laptop specifications to support participants in class.

The design class starts at 13:30, the event was attended by 6 participants from various backgrounds, from students, students and employees. The beginning of the coach event explained that graphic design is now a widely used thing in various sectors, of course because now we have entered the era of the industrial revolution 4.0. Coach said "good design is a design whose information is conveyed clearly to people who see it, each designer has the characteristics of each design.

Next Coach directly guides participants to open their laptops and start playing the CorelDraw application, in this case CorelDraw X7 is used. Some things that are introduced in the CorelDraw application are the creation of new worksheets, introduction of various tools, removal of background on bitmap objects, use of text, as well as coloring techniques of objects. Coach emphasized that there were at least 4 more tools that participants had to really master to create a design. then the coach displays a logo design of an institution in the CoelDraw worksheet then participants are asked to follow the coach to practice step by step in its making. The participants' design results are then viewed one by one by the coach. The results show that although the goal logo shown and made by the participants is the same logo, the design produced by each participant is different, because there are differences in the participant's background regarding understanding and ability in the graphic design field.

At the end of the event the coach said that it was not easy to produce a good design, it requires a lot of practice so that we will get used to using the tools in CorelDraw. Next, a graphic design class follow-up meeting will be held the following week.




By : Heta Utari, S.Kom

Sabtu, 07 Maret 2020

Ayo Bermain!

Siapa sih yang masa kecilnya kurang bahagia? Dalam konteks bermain yah, bukan dalam konteks lainnya. Tentu kita bakal menemukan jawabannya pada diri kita sendiri. Sering terdengar oleh kita, pada saat kita umur dewasa lalu memainkan permainan anak kecil maka segerombolan orang akan mengatakan “masa kecilnya kurang bahagia”. Lantas apakah benar bahwa masa kecil kita kurang bahagia? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Sebuah keniscayaan yang harus dirasakan manusia pada masa kanak-kanak adalah bermain. Apakah permainan itu dilakukan sendiri maupun bersama dengan orang lain, bahkan menggunakan alat ataupun tidak, tradisional maupun modern, itu semua tentu arahnya adalah mengasyikkan.

Bermain lompat tali, enggrang, congklak, petak umpet, bentengan, bola kasti, sepak bola plastik dan lain sebagainya. Itu semua adalah permainan yang mungkin sering kita rasakan dan kita dengar. Bermain game bord, sega, playstasion, dan pistol-pistolan juga sering akan tetapi permainan ini hanya pada kalangan tertentu karena membutuhkan biaya yang lebih besar. Bagi anak anak permainan ini sangat seru dan asyik. Ada hal penting didapatkan si anak ketika melakukan permainan tersebut yaitu menyenangkan, mengasyikkan, kekompakan, kerjasama, dan bahkan ketangkasan. 

Permainan tersebut sering dilakukan dilingkungan rumah maupun di sekolah, bahkan sampai ke tingkat perkemahan. Bermain tentu akan menghilangkan kebosanan dan kejenuhan. Itulah yang dirasakan anak anak. Belajar terus di rumah dan di sekolah, tambah lagi les tambahan dan privat sungguh membuat si anak bakal jenuh. Oleh karena itu mereka menganggap bermain itu sangat penting. Lalu bagaimana mengatur waktu bermainnya dan permainan apa saja yang harus dilakukan.

Rasulullah SAW sangat senang mengajak cucu beliau Hasan dan Husain serta Ibnu Abbas bermain kuda-kudaan bahkan bermain lari pacu. Suatu ketika Beliau membuat suatu permainan dengan kedua cucunya, siapa yang lebih duluan sampai memeluk Beliau. Maka dengan senang dan gembira Hasan dan Husain pun berlari secepat mungkin untuk memeluk Rasulullah SAW. Kemudian juga Ibnu Abbas r.a. sering diajak Rasulullah SAW bermain kuda-kudaan. Itu salah satu contoh permainan yang sederhana tapi sangat bermakna.

Saat ini bentuk dan jenis permainan sangatlah banyak macamnya, mulai dari tanpa alat maupun menggunakan alat. Akan tetapi permainan tersebut membuat anak-anak semakin tidak menghargai waktu dan keluarganya. Terlalu sibuk dengan permainan bentengnya hingga lupa waktu sholat dan waktu belajar, itu menjadi evaluasi bagi permainan si anak. Bahkan lebih bahaya lagi permainan yang menggunakan telepon genggam yang berlebihan hingga menyebabkan penyakit mata, dan bahkan kejiwaan anak.

Tentu itu semua tidak terlepas dari perhatian orang tua. Sesungguhnya orang tua lah yang utama mengajak anaknya bermain. Nak! Main yok! Mungkin jarang kita dengar dari mulut orang tua si anak langsung. Dek, ayo bermain! Sungguh jarang terjadi. Bisa saja karena kesibukan orang tuanya sehingga waktu untuk anak tidak dapat dibagi. Oleh sebab itu, penting sekali bagi orang tua untuk memperhatikan waktu bermain anak dan permainan apa saja yang dilakukan si anak. Permainan yang berbobot, baik secara visual, gerak, bahkan permaianan yang menambah wawasan akademik si anak.  Permainan yang mengasah otak si anak, menumbuh kembangkan gerak motorik anak serta mengasah sosial dan kerjasama si anak justru itu lebih baik dari pada memberikan waktu kebebasan si anak dalam menghabiskan waktu bermainnya tanpa perhatian orang tua

Semoga kita selalu dapat menebarkan kebaikan kepada generasi kita, bangsa kita sehingga mereka menjadi pemimpin masa depan yang tidak menggunakan kepemimpinannya untuk kembali mengulang “masa kecil yang kurang bahagia” mereka. 

Wallohu a’lam bishshowab

Oleh : Sholahuddin Gultom

============================================================================

Let's Play!

Who the heck was a child less happy? In the context of playing well, not in other contexts. Of course we will find the answer to ourselves. It is often heard by us, when we are adults and then play the game of a child then a group of people will say "his childhood is not happy". So is it true that our childhoods were less happy? The answer is in ourselves. A necessity that must be felt by humans in childhood is playing. Whether the game is done alone or together with other people, even using tools or not, traditional or modern, it all of course the direction is exciting.

Playing jump rope, enggrang, congklak, hide and seek, bentengan, baseball balls, plastic soccer and so forth. These are all games that we may often feel and hear. Playing bord, sega, playstasion, and pistols also often, but this game is only in certain circles because it requires a greater cost. For children this game is very exciting and fun. There is an important thing for the child to get while doing the game that is fun, exciting, compactness, cooperation, and even dexterity.

The game is often done at home and at school, even to the camp level. Playing will certainly eliminate boredom and boredom. That is what children feel. Continuing learning at home and at school, plus additional private and tutoring really make the child will be bored. Therefore they think playing is very important. Then how to manage playing time and what games to do.

Rasulullah SAW was very pleased to invite his grandchildren Hasan and Husain and Ibn Abbas to play piggybacks and even run and run. One time he made a game with his two grandchildren, who was the first to embrace him. So happily and happily Hasan and Husain ran as fast as possible to embrace Rasulullah SAW. Then also Ibn Abbas r.a. the Prophet was often invited to play piggyback. That's one example of a simple but very meaningful game.

Currently the shape and type of the game is very many kinds, ranging from without tools or using tools. However, the game makes children increasingly disrespect their time and family. Too busy with the game of the castle to forget the prayer times and study time, it becomes an evaluation for the child's play. Even more dangerous is the game that uses excessive cell phones to cause eye disease, and even children's psychiatric disorders.

Of course it all can not be separated from the attention of parents. In fact, parents are the main ones to invite their children to play. Kiddo! Let's play Maybe we rarely hear from the mouth of the child's parents directly. Dek, let's play! Very rarely happens. It could be because of busy parents so that the time for children can not be divided. Therefore, it is very important for parents to pay attention to the child's playing time and what games the child is doing. A weighted game, both visually, motion, and even games that add to the child's academic insight. Games that sharpen the brain of the child, develop children's motor movements and hone social and cooperation of the child are actually better than giving time to the child's freedom in spending time playing without the attention of parents

Hopefully we can always spread the goodness to our generation, our nation so that they become future leaders who do not use their leadership to repeat their "unhappy childhood".
Wallohu a'lam bishshowab

By: Sholahuddin Gultom

Rabu, 04 Maret 2020

Tes Psikotes untuk Calon Siswa TK dan SD IT Robbani Gelombang Pertama


Tes IQ merupakan tes psikologi yang bertujuan untuk mencari tahu kemampuan intelegensi anak. Intelegensi tersebut meliputi kemampuan menalar, memahami, serta memecahkan masalah. Selain itu, tes IQ juga bertujuan untuk mengetahui kemampuan dasar anak misalnya dalam menggunakan bahasa verbal, kecenderungan belajar, dan hal lainnya yang berhubungan dengan kemampuan kognitif.

Tes IQ diperlihatkan melalui angka yang berkisar mulai dari 70-169. Semakin tinggi skornya berarti semakin tinggi tingkat intelegensi anak. Jika skor IQ anak ada dikisaran 70-80an maka dikategorikan dibawah rata-rata. Sedangkan skor 90-109 dikategorikan rata-rata. Skor 110-119 dikategorikan diatas rata-rata. Kemudian skor 120-139 dikategorikan cerdas atau superior. Sedangkan skor 140-169 dikategorikan sebagai jenius.

Terkait minat dan bakat untuk mengarahkan anak agar beraktivitas maksimal sesuai potensi bisa nampak dari proses psikotes. Apakah anak anda suka dengan matematis, bangun ruang, berinteraksi dengan orang lain/ intrapersonal, tipe interpersonal, suka dengan alam, dan lain-lainnya.

Kepala sekolah TK IT Robbani, Ani Oktar Yansi menambahkan “psikotes ini merupakan rangkaian dari  proses penerimaan siswa baru untuk mengetahui pemetaan kecerdasan anak, selain psikotes nanti juga akan ada rangkaian wawancara dan tes kesehatan”

Jika banyak orangtua yang mengetahui manfaat serta tujuan dari tes IQ maka setidaknya masa depan anak bisa dipersiapkan dengan lebih matang. Tentu saja tes IQ anak tidak menjadi tolok ukur keberhasilannya nanti. Hanya saja ini bisa jadi guide yang bermanfaat bagi rencana masa depannya terutama dalam pendidikan.



Oleh: Enda Kurniati, S.Pd

============================================================================


Psychological Test for Robbani 1st Wave Kindergarten and Elementary School Students  



IQ test is a psychological test that aims to find out the intelligence abilities of children. The intelligence includes the ability to reason, understand, and solve problems. In addition, the IQ test also aims to find out the basic abilities of children for example in using verbal language, learning tendencies, and other matters related to cognitive abilities.

IQ tests are shown through numbers ranging from 70-169. The higher the score means the higher the level of children's intelligence. If a child's IQ score is in the range of 70-80s, it is categorized below the average. While the 90-109 score is categorized as average. Scores 110-119 are categorized above the average. Then the score 120-139 is categorized as intelligent or superior. While the score 140-169 is categorized as a genius.

Related to interests and talents to direct children to the maximum activity according to potential can be seen from the psychological test process. Does your child like math, build space, interact with other people / intrapersonal, interpersonal type, like nature, and others.

Principal of IT Robbani Kindergarten, Ani Oktar Yansi added "This psychological test is a series of new admissions processes to find out the mapping of children's intelligence, in addition to the psychological test later there will also be a series of interviews and medical tests"
If many parents know the benefits and objectives of the IQ test then at least the child's future can be prepared more thoroughly. Of course a child's IQ test will not be a measure of success later. It's just that this can be a useful guide for future plans, especially in education

By: Enda Kurniati, S.Pd