BREAKING NEWS

Main Slider

5/Food/slider-tag
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2020

Manajemen Waktu Efektif Adalah Kuncinya

Manajemen waktu merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menyeimbangkan antara waktu belajar atau bekerja, bersenang-senang atau bersantai, serta  waktu beristirahat. Untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan atau kegiatan tersebut maka kuncinya adalah fokus. Namun banyak dari kita begitu mudah kehilangan fokus. Ketika sudah memiliki target harian, yang dikerjakan bukanlah target yang sudah disusun. Justru yang lain. Ini yang menyebabkan banyak dari kita tidak berhasil meraih target yang sudah kita rencanakan sejak awal. Fokus memang menjadi masalah yang paling krusial bagi seseorang ketika ia hendak mengeksekusi rencana-rencana yang telah disusunnya. Banyak dari kita yang mudah terganggu dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang sedang direncanakan. Entah itu bermain gadget, belanja online, hingga bermain game. Padahal sudah begitu banyak daftar pekerjaan yang sudah dipikirkan dan disusun pada waktu sebelumnya. Jadi, habiskan waktumu dengan menuntaskan prioritas yang harus kamu kerjakan. Bukan yang lain.

Berikut ini merupakan tahapan yang dapat kamu lakukan ketika ingin membangun manajemen waktu yang efektif dalam hidup:

A. Tahap Persiapan
1)Deep work, yaitu waktu saat dia bisa berkonsentrasi secara penuh tanpa gangguan sama sekali untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaannya. Sebagai contoh, seseorang yang mengurung diri di dalam ruangannya lalu meletakkan tanda "tidak ada di ruangan" selama 4 jam lamanya. Atau mencari tempat-tempat yang sepi jauh dari gangguan.
2)Willpower, yaitu kekuatan yang berasal dari dalam diri kita. Sifatnya seperti otot-otot dalam tubuh kita. Jika semakin sering digunakan untuk bekerja maka semakin cepat pula ia akan melemah. Maka kamu harus pandai dalam menjaga willpower ini.

B. Membuat Ritual
Setelah memahami konsep tentang deep work dan willpower, maka berikutnya kamu perlu membuat Ritual cara bekerjanya dengan baik. Ada sebuah proses yang disebut dengan the habit loop (rantai kebiasaan) yang biasanya digunakan untuk membangun sebuah kebiasaan seseorang. 
1)Proses pertama ini disebut dengan Cue. Cue adalah tanda yang mengawali setiap kebiasaan hidupmu. Contohnya jika kamu terbiasa membuka HP saat bangun tidur, maka Cue nya adalah bangun tidur. Untuk menghilangkan kebiasaan ini maka kamu letakkan HP jauh dari tempat yang dapat kamu jangkau.

2)Proses kedua adalah membuat rutinitas atau kebiasaan. Kebiasaan yang kamu bangun ini adalah sesuai dengan yang ingin kamu jalankan. Misalnya ingin membangun rutinitas membaca Al Qur'an 1 juz setiap hari, atau berolahraga rutin setiap pagi. Namun ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. 
  • Yang pertama : tentukan dimana dan berapa lama kamu bekerja. 
  • Yang kedua : buatlah kebiasaan pendukung yang bisa menjaga produktivitasnya bekerja.
  • Yang terakhir : catat dan lakukan evaluasi secara rutin.

C. Hal-hal Nonteknis
  1. Pertama, malas jangan dipelihara
  2. Kedua, jadilah morning person dan hilangkan kebiasaan begadang.
  3. Ketiga, tiap orang berbeda-beda. Setiap diri kita mempunyai karakter yang berbeda-beda. Termasuk beban pekerjaan yang berbeda pula.

Namun cobalah memakai standar berikut untuk menjaga kualitas manajemen waktu :
  • Tidur yang cukup (6-8 jam)
  • Olahraga yang teratur ( minimal 3 kali seminggu, setiap sesi minimal 1 jam)
  • Hiburan yang memadai
  • Asupan makanan yang baik
  • Tentu saja amalan harian yang berkualitas.

Oleh : Erina, S.Pd

======================================================================================

Effective Time Management Is The Key

Time management is a way that can be done to balance between study or work time, have fun or relax, and time to rest. To be able to balance the work or activity, the key is focus. But many of us lose focus easily. When you have a daily target, what you have done is not the target you have set. Precisely the other. This is why many of us fail to achieve the targets we had planned from the start. Focus is indeed the most crucial problem for a person when he wants to execute the plans that he has drawn up. Many of us are easily distracted by things that have nothing to do with the work being planned. Whether it's playing gadgets, shopping online, to playing games. Even though so many job listings have been thought of and compiled in the previous time. So, spend your time completing the priorities that you have to do. Not others.
The following are the steps you can take when you want to build effective time management in life:

A. Preparation Stage

1) Deep work, which is a time when he can concentrate fully without interruption at all to complete his work. For example, someone who locked himself in his room then put the sign "not in the room" for 4 hours. Or look for quiet places away from distractions.

2) Willpower, which is the power that comes from within us. Its like the muscles in our body. The more often it is used for work, the faster it will weaken. Then you must be good at keeping this willpower.

B. Making Rituals
After understanding the concepts of deep work and willpower, then next you need to make a ritual of how it works well. There is a process called the habit loop which is usually used to build a person's habits.
1) This first process is called Cue. Cue is a sign that starts every habit of your life. For example if you are accustomed to opening your cellphone when you wake up, the Cue is wake up. To get rid of this habit, you place your cell phone far from where you can reach.

2) The second process is to make a routine or habit. The habits that you build are what you want to live according to. For example, want to build a routine of reading the Qur'an 1 juz every day, or exercising regularly every morning. But there are some important things that must be considered.

  • The first: determine where and how long you work.
  • The second: make supporting habits that can maintain productivity work.
  • Finally, record and evaluate regularly.
C. Non-technical Matters
  1. First, do not be lazy to maintain
  2. Second, be a morning person and get rid of the habit of staying up late.
  3. Third, each person is different. Each of us has a different character. Including different workloads.

But try to use the following standards to maintain quality time management:
  • Get enough sleep (6-8 hours)
  • Regular exercise (at least 3 times a week, every session at least 1 hour)
  • Adequate entertainment
  • Good food intake
  • Of course, quality daily practices.

By: Erina, S.Pd

Rabu, 25 Maret 2020

Si Mungil yang Meresahkan "Virus Corona"

Dunia tengah disibukkan dengan merebaknya si mungil ini karena kehadirannya memberi keresahan dan jejak kehadirannya menyisakan kesedihan. Betapa tidak? Sudah ribuan nyawa melayang sejak kehadiran si mungil ini. Si mungil ini memiliki nama yang unik yakni “Corona” atau nama lainnya “Covid-19” namun misi si mungil ini begitu menyeramkan. Alon alon asal klakon (dalam bahasa jawa), mungkin begitulah prinsip kerjanya. Ia singgah dari satu manusia ke manusia lainya, dari satu benda ke benda lainnya, bahkan dari satu Negara ke Negara lainnya. 

Saat ini para dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya kewalahan menangani orang-orang yang telah disinggahi oleh si mungil ini. Beberapa Negara bergegas menentukan kebijakan masing-masing dalam mengatasi hal ini. Mungkin kata “Lockdown” tak asing lagi dipendengaran kita. Lockdown adalah kebijakan yang pertama kali diadopsi oleh pemerintah Negara Cina saat merebaknya virus ini yang bermula di Wuhan yang selanjutnya diikuti pula oleh Italia. Lantas, apakah Indonesia mampu seperti Cina dan Italia untuk melakukan Lockdown? Sedangkan dari sisi kesiapan mental sosial masyarakat dan kesiapan negara dalam mengatasi imbas dari lockdown begitu nampak tak memungkinkan.

Apakah kita akan diam dan acuh saja seolah menantikan giliran si mungil ini bertamu pada kita? Ikhtiar sebelum tawakal sob, memang ajal sudah jadi qodar dari Allah namun bukan berarti kita pasrah hingga si mungil itu datang menyerang semua wilayah. Berikut ini berapa ikhtiar yang dapat kita lakukan selain lockdown nasional : 
1.Social distancing, yakni menjaga jarak interaksi social dengan siapapun minimal sejauh 1 m. 
2.Menjaga kesehatan dan imunitas tubuh dengan meningkatkan dan memperbaiki asupan gizi pada tubuh serta menjaga makanan yang di konsumsi. 
3.Lockdwn mandiri, tidak keluar rumah tanpa ada kebutuhan mendesak. Jika pun terpaksa tetap keluar seperti karena tuntutan pekerjaan yang tidak bias dilakukan dari rumah maka tetap harus jaga diri, jaga kebersihan, dan jaga jarak dengan setiap orang, serta menjaga wudhu .
4.Jika berada diluar rumah sebaiknya menggunakan masker atau penutup jenis lainnya, bersyukurlah bagi para muslimah yang selalu keluar rumah dengan kondisi aurat tertutup sesuai syariat.
5.Menjaga adab saat batuk dan bersin. 
6.Menjaga kebersihan.
7.Segera memeriksakan diri jika gejala menunjukkan makin parah. 
8.Perbanyak berdoa dan dzikir, lebih dekatkan lagi diri kita kepada Allah sembari memuhasabah setiap dosa kita karena bias jadi musibah wabah corona ini adalah buah dari tumpukan-tumpukan dosa dan kedzoliman kita.  
         
Dalam hal ini kita sebagai lembaga pendidikan harus mendukung program pemerinta untuk tetap berdiam diri di rumah, selama 14 hari siswa TK IT Robbani diliburkan untuk pemutusan mata rantai penyebaran virus corona ini. Dimana siswa belajar di rumah dengan arahan dari guru melalui media online, SIT Robbani juga meluncurkan aplikasih rumah belajar SIT Robbani guna membantu orangtua membimbing anak belajar di rumah. Setiap harinya para guru akan mengshare materi kegiatan yang akan di lakukan orangtua dan siswa di rumah, Alahamdulillah selama daring belajar di rumah para orang tua bekerjasama dengan baik dengan guru dan libur akibat pencegahan covid 19 ini menjadi berkualitas.


Oleh: Serly yunita


======================================================================================


The Little One who fears the "Corona Virus"

The world is preoccupied with the outbreak of this little one because his presence gives anxiety and traces of his presence leaving sadness. How not? Thousands of lives have been lost since the presence of this little guy. This little one has a unique name that is "Corona" or another name "Covid19" but this little mission is so scary. It is said that the origin of the horn (in Javanese), maybe that's the principle of work. He stopped from one human to another, from one object to another, even from one country to another. 

At present the doctors, nurses, and other medical personnel are overwhelmed by people who have been visited by this little one. Several countries rushed to determine their respective policies in overcoming this. Maybe the word "Lockdown" is no longer sing in our hearing. Lockdown is a policy that was first adopted by the Chinese government when the outbreak of this virus that began in Wuhan, which was then followed by Italy. So, is Indonesia capable like China and Italy to lockdown? While in terms of the social mental readiness of the people and the readiness of the state in overcoming the effects of lockdown, it seems impossible.

Are we going to be silent and indifferent as if waiting for this little turn to visit us? Efforts before resignation friend, indeed death has become a qodar from God, but that does not mean we surrender until the little one comes to attack all regions. Here are how many things we can do besides national lockdowns:
1.Social distancing, namely maintaining a minimum distance of social interaction with anyone as far as 1 m.
2.Maintain health and body immunity by increasing and improving nutritional intake in the body and maintaining food consumed.
3.Lockdwn independently, do not leave the house without urgent needs. If you are forced to stay out as if due to the demands of work that cannot be done from home, you still have to take care of yourself, keep clean, and keep your distance from everyone, and keep ablution .
4.If you are outside the house you should use a mask or other type of cover, be thankful for Muslim women who always leave the house with closed aurat conditions according to the Shari'a.
5.Maintain manners when coughing and sneezing.
6.Maintain cleanliness.
7.Immediately check yourself if the symptoms show more severe.
8.Pray more and dhikr, draw yourself closer to God while understanding all our sins because bias can be the calamity of this corona outbreak is the fruit of our piles of sin and tyranny.
         
In this case we as educational institutions must support the government program to remain silent at home, for 14 days IT Robbani Kindergarten students are closed for breaking the chain of the spread of this corona virus. Where students study at home with direction from the teacher through online media, SIT Robbani also launched the SIT Robbani home learning application to help parents guide children to learn at home. Every day the teachers will share material activities that will be done by parents and students at home, Alahamdulillah during online learning at home, parents work well together with the teacher and holidays due to the prevention of covid 19 this becomes quality.

By: Serly Yunita

Sabtu, 21 Maret 2020

Kenal lebih dekat dengan Karakter Anak Zaman Now

Di era digital saat ini, generasi baru telah lahir. Dan setiap generasi pasti memiliki karakteristik masing-masing, dan itu bersifat unik. Setiap generasi memiliki karakteristik yang pastinya berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya. Ia lahir sesuai dengan keadaan dan lingkungan yang saat ini mereka alami. Setiap generasi tersebut memiliki perbedaan baik dari segi kepercayaan, karier, keyakinan, keluarga dan lingkungannya.

Sebagai contoh saja dahulu generasi yang lahir pada tahun 1946-1964 memilki sebutan generasi "Baby Bloomers"  kenapa ? Karena pada generasi itu, ledakan bayi pasca perang dunia ke 2, angka kesuburan manusia dan kelahiran bayi sangat tinggi. Sedangkan generasi yang lahir pada tahun 1965-1979 disebut dengan "Generasi X" pada generasi ini tingkag kelahiran bayi rendah, dan pada generasi ini kebanyakan orang muda yang bekerja di kota dan mereka sangat kuat dalam menaiki tangga karir di usia mudanya.

Populasi generasi yang lahir pada tahun 1980-1995 sering disebut dengan "generasi Y" atau bisa di sebut dengan generasi millenial, Karena generasi ini sudah masuk pada zaman dimana sudah ada teknologi yang canggih, dan komputer sudah dikenal pada generasi Y, dan generasi ini dibesarkan dengan nilai-nilai yang istimewa, bisa menjadi apa saja, percaya diri, hebat bekerja dalam tim. Dan generasi ini tumbuh bersamaan dengan matangnya nilai-nilai HAM yang membawa mereka pada nilai yang lebih Demokratis.

Terakhir, yaitu generasi yang lahir pada tahun 1996 - sekarang, pada era generasi ini, internet mulai masuk dan berkembang dengan pesat, mereka tumbih besar dengan Iphone atau perangkat pintar lainnya. Lebih sering berinteraksi dengan Gadget dibanding bersosialiasi dengan manusia, dan generasi inilah yang sering kita dengar dengan sebutan "generasi X" atau "generasi Net".

Setiap karakteristik berbeda-beda ditentukan oleh perubaham dan kondisi saat itu. Dan generasi Net atau mungkin inilah generasi anak kita saat ini, mereka lahir tanpa mengetahui masa kehidupan tanpa internet, komputer, atau telpon genggam. Mereka memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Generasi Net, memiliki ambisi besar untuk Sukses.
Anak zaman sekarang cenderung memiliki karakter yang positif dan optimis dalam menggapai mimpi mereka. Dengan kondisi orang tua hang mayoritas lebih mapan dan mampu memberikan fasilitas dan rasa nyaman kepada generasi ini. Mereka sering melihat dan mencontoh hal yang mereka idolakan dibanding generasi sebelumnya.

2. Anak generasi Net cenderung Praktis dan Berprilaku Instan.
Anak generasi saat ini cenderung menyukai dan menyelesaikan permasalahan dengan praktis, mereka enggan meluangkan proses atau mencermati suatu masalah. Hal ini disebabkan anak anak ini lahir dalam dunia yang serba instan. Kenapa tidak, ketika mereka ingin mengetahui sesuatu mereka bisa segera mencarinya di Google atau Youtube. Mulai dari bangun tidur, makan, sekolah  belajar mereka serba instan. Berbagai alat transportasi membuat anak dapat mencapai jarak jauh dalam waktu cepat.

3. Cinta kebebasan dan percaya diri yang kuat.
Generasi net ini, amat menyukai kebebasan. Kebebasan dalam berkreasi, berekspresi, berpendapat dan lain sebagainya. Mereka lahir di dunia yang modern dan memiliki kepercataan diri yang tinggi, sikap optimis dan mental positif. Dan anak anak generasi ini tidak menyukai pelajaran yang bersifat Menghafal, mereka lebih menyukai pelajaran yang bersifat Eksplorasi.

4. Berkeinginan besar untuk mendapatkan pengakuan.
Setiap orang pasti memiliki keinginan agar di akui kerja keras dan usahanya. Dan seperti itu juga yang terjadi pada generasi Net saat ini. Mereka cenderung ingin di berikan pengakuan dalam bentuk Reward (pujian,hadiah, atau penghargaan) atas apa yang telah mereka lakukan.

5. Serba digital dengan Teknologi Informasi (Internet)
Generasi ini lahir saat dunia digital mulai berkembang dengan sangat pesat di dunia. Dan generasi ini sangat pandai dalam menggunakan segala macam Gadget yabg ada dan mengunakan teknologi dalam keseharian mereka.

So, sudah saatnya kita memahami bahwa anak anak saat ini berbeda dengan masa kita dahulu, dan tidak bisa kita perlakukan sama seperti perlakuan orangtua atau guru kita terdahulu. Dan tugas kita sebagai pendidik maupun orangtua adalah memberikan perhatian penuh dan mengarahkan semua kehendak anak ke arah yang lebih positif dan mampu menjadi pendidik dan orangtua yang cerdas, agar peran kita tidak tergantikan  dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini. (Sumber: buku Raising Children in digital era).

Oleh : Nur Amalia, S.Pd

======================================================================================

Get to Know You Closer to the Characters of Children Today

In today's digital era, a new generation has been born. And each generation must have its own characteristics, and that is unique. Each generation has characteristics that are certainly different from the generation before and after. He was born according to the circumstances and environment that they are currently experiencing. Each generation has differences both in terms of trust, career, beliefs, family and environment.

For example, in the past the generation born in 1946-1964 had the title "Baby Bloomers" generation, why? Because in that generation, the baby boom after the second world war, human fertility and birth rates were very high. While the generation born in 1965-1979 is called the "Generation X" in this generation, the level of birth is low, and in this generation most young people are working in cities and they are very strong in climbing the career ladder at a young age.

The generation of the population born in 1980-1995 is often referred to as the "Y generation" or can be called the millennial generation, because this generation has entered the era where there was sophisticated technology, and computers were known in the Y generation, and this generation was raised with special values, can be anything, confident, great at working in teams. And this generation has grown along with the maturity of human rights values ​​which has led to more democratic values.

Finally, the generation born in 1996 - now, in the era of this generation, the internet began to enter and grow rapidly, they grew up with the iPhone or other smart devices. More often interact with gadgets than socializing with humans, and this generation is what we often hear as "generation X" or "generation of the Net".

Each characteristic is different determined by the changes and conditions at that time. And the Net generation or maybe this is our generation of children today, they were born without knowing the life span without the internet, computers, or mobile phones. They have the following characteristics:

1. The Net generation, has big ambitions for success.
Children today tend to have positive and optimistic character in reaching their dreams. With the condition of the majority of parents hangs more established and able to provide facilities and a sense of comfort to this generation. They often see and copy the things they idolize compared to previous generations.

2. Net generation children tend to be practical and behave instantly.
Today's generation of children tends to like and solve problems practically, they are reluctant to take the process or look at a problem. This is because these children are born in an instant world. Why not, when they want to know something they can immediately look for it on Google or Youtube. Starting from getting out of bed, eating, school they are all instantaneous. Various means of transportation allow children to reach long distances in quick time.

3. Love freedom and strong confidence.
This net generation, really likes freedom. Freedom of creation, expression, opinion and so on. They were born in a modern world and have high self-confidence, an optimistic attitude and a positive mentality. And this generation of children does not like lessons that are memorizing, they prefer lessons that are Exploratory.

4. Eager to get recognition.
Everyone must have a desire to be recognized for their hard work and efforts. And like that also happens in the current generation of the Net. They tend to want to be given recognition in the form of rewards (praise, prizes, or awards) for what they have done.

5. Digital with Information Technology (Internet)
This generation was born when the digital world began to develop very rapidly in the world. And this generation is very good at using all kinds of gadgets that are available and using technology in their daily lives.

So, it's time we understand that children today are different from our past, and we cannot treat them the same way our parents or teachers treated them. And our job as educators and parents is to give full attention and direct all the will of the child to a more positive direction and be able to become educators and smart parents, so that our role is not replaced by the rapid development of technology today. (Source: Raising Children in digital era).

By: Nur Amalia, S.Pd

Rabu, 18 Maret 2020

Pentingnya Membiasakan Anak Tentang Sholat Sejak Usia Dini

Dari Abdullah bin Amr Ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “suruhlah anak kalian sholat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika berusia 10 tahun jika mereka meninggalkan sholat. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka antara laki-laki dan anak perempuan.”  HR Abu Dawud
.
“Perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha :132).

Pengertian sholat secara bahasa mempunyai arti yaitu doa, menurut istilah adalah ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan tindakan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah dengan amal kebaikan dan menyembah kepadanya. Menyembah disini bearti beribadah dan salah satunya adalah sholat. 

Pendidikan anak yang sangat ditekankan Rasullah SAW adalah membaguskan semangat anak untuk beribadah kepada Allah SWT. Anak senantiasa dilatih untuk beribadah. Hingga pada masanya anak tumbuh dewasa, dirinya telah memiliki kesadaran tinggi dalam menunaikan kewajiban ibadah. 

Dalam agama Islam ibadah sholat itu adalah kewajiban dan merupakan rukun islam ke-2 setelah membaca dua kalimah syahadat. Karena pentingnya sholat ini juga diajukan sebagai tiang agama, sebagai media komunikasi antara seorang hamba dengan Allah. Sholat adalah amalan yang pertama akan dihisab dihari kiamat dan sholat penentu nilai amal-amal ibadah yang lain. 

Untuk mengarahkan anak tekun dalam beribadah memerlukan pola yang mendukung ke arah hal tersebut, seperti diperlukan keteladanan dari orang tua dan orang-orang disekitar anak. Perilaku orang tua itu lebih ampuh dari lisan yang berbicara. Anak akan melakukan proses imitasi meniru dari apa yang diperbuat orang tuanya.

Ada begitu banyak manfaat sholat yang dilakukan sejak usia dini. Gerakan sholat seperti rukuk, merangsang perenggangan jaringan ikat penguat sendi dan tulang rawan. Setidaknya 17 kali ketika sholat lima waktu. Karena itulah anak-anak muslim tanpa mereka sadari telah menjaga kelenturan jaringan tersebut sejak dini. Lain halnya jika kita mengabaikan atau menyiakan-nyiakan keistimewaan ini dan tidak melakukan latihan yang berkesinambungan, maka jaringan tersebut akan mengalami kekakuan ketika usia dewasa. Ternyata apa yang dikerjakan secara rutin sesuai perintah agama, tanpa disadari telah mengurangi masalah sakit pinggang yang banyak menimpa umat manusia.

Jadi begitu banyak anjura, tata cara dan manfaat mengajarkan anak untuk sholat sejak dini. Seperti hal nya di TK IT Robbani untuk mengenalkan sekaligus membiasakan anak sholat. TK IT Robbani memiliki kegiatan rutin sholat dhuha setiap senin-kamis sedangkan pada hari jum'at anak-anak diajarkan dan dikenalkan sholat fardhu bergiliran setiap pekannya. Dengan mengenalkan sholat anak sedini mungkin, amak anak akan terbiasa dan mudah untuk mengenalkan manfaat-manfaat lain dari sholat selain sebagai ibadah wajib kepada Allah SWT.

Oleh : Minarti, S.Pd


======================================================================================

The Importance of Familiarizing Children About Prayer Since Early Childhood

From Abdullah bin Amr Ra, he said that the Messenger of Allah said, "Ask your children to pray when they are seven years old and beat them when they are 10 years old if they leave their prayers. And separate their beds between boys and girls. " HR Abu Dawud

"Order your family to establish prayer and be patient in doing it. We do not ask for your fortune as we are the ones who give you sustenance. And that good effect is for those who fear Allah. " (Surah Thaha: 132).

Understanding prayer in language has a meaning that is prayer, according to the term is compulsory worship consisting of words and actions that begin with takbir and end with greetings. The purpose of Allah created man is to worship with good deeds and worship him. Worship here means worship and one of them is prayer.

Children's education which is strongly emphasized by Rasullah SAW is to foster children's enthusiasm to worship Allah SWT. Children are always trained to worship. Until the time the child grows up, he already has a high awareness in fulfilling the obligations of worship.

In Islam the worship of prayer is an obligation and is the second pillar of Islam after reading the two sentences of the shahada. Because of the importance of this prayer is also proposed as a pillar of religion, as a medium of communication between a servant with God. Prayer is the first practice to be judged on the Day of Judgment and the prayer determines the value of other acts of worship.

To direct the child to persevere in worship requires a pattern that supports this, as exemplary parenting and those around the child are needed. Parents' behavior is more effective than verbal speech. Children will do the imitation process of imitating what their parents do.

There are so many benefits of praying done from an early age. Prayer movements, such as bowing, stimulate stretching of the connective tissue that strengthens the joints and cartilage. At least 17 times when praying five times. That is why Muslim children have unknowingly maintained the flexibility of the network from an early age. It is different if we ignore or waste this privilege and do not do continuous training, then the network will experience stiffness as an adult. It turns out that what is done routinely according to religious orders, unwittingly has reduced the problem of lumbago that many afflict humanity.

So there are so many suggestions, procedures and benefits to teach children to pray early on. Like it in kindergarten IT Robbani to introduce as well as familiarize children pray. IT Robbani Kindergarten has a routine Duha prayer every Monday-Thursday while on Friday the children are taught and introduced to Fardhu prayers in turns every week. By introducing children's prayers as early as possible, children will be accustomed to and easy to introduce other benefits of prayer other than as an obligatory worship to Allah SWT.

By: Minarti, S.Pd

Sabtu, 14 Maret 2020

Guru Kecil

Dunia anak  penuh warna-warni dan keberagaman. Di zaman yang serba instant dan digital ini, dibutuhkan ilmu yang mumpuni dalam membentuk kepribadiannya. Sebuah tantangan besar dalam mendidik  anak  dari dahulu hingga sekarang, dengan media informasi yang bisa dijangkau kapanpun dan dimanapun membuat para orang tua harus banyak belajar menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Jangan sampai mampu memberikan fasilitas terkini tapi tidak mampu mendampingi dan mengontrolnya. Mirisnya, orang tua berharap tumbuh kembang pendidikan anak  bisa di capai  dengan instant dan diserahkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah walau harus membayar mahal. Padahal peran serta orang tua dalam proses tumbuh kembang anak sangat penting dan diharapkan lebih up to date dengan informasi yang beredar agar bisa menyaring apa yang layak dan tidak layak untuk diketahui oleh anak-anak.

Mendidik anak tidak semudah membalik telapak tangan, butuh ilmu, pengalaman dan proses panjang serta kesabaran yang tak berbatas. Perlu kerjasama antar orang tua dan guru di sekolah dalam membangun karakter karena lingkungan adalah salah satu faktor pembentuk kepribadiannya. Dunia bermain anak di  era 80 – 90an  berbeda jauh dengan sekarang, Dahulu bermain itu di luar rumah, bercengkrama dengan teman, bereksplorasi dengan alam sekitar  tanpa takut jatuh, kotor ataupun terluka. Mampu mengenal semua teman yang ada di lingkungan rumah walau kadang berselisih paham dan sampai berkelahi, tak jadi masalah. Karena secara tidak langsung mereka belajar bersosialisasi, berpendapat, mengenal karakter orang lain, dan menghadapi permasalahan serta berusaha menyelesaikannya. Peran orang tua yang mendukung kegiatan anak untuk lebih banyak bermain di luar daripada di dalam rumah sangat membantu dalam proses tumbuh kembanganya.

Sedangkan anak zaman milenia cukup dengan satu sentuhan jari mereka bisa asik bermain tanpa perlu menguras energi dan banyak cakap dengan orang lain, serta kekhawatiran yang berlebihan dari orang tua jika anaknya bermain di luar rumah. Akibatnya, kurangnya hubungan sosial anak terhadap teman disekitarnya,  cenderung individualis, takut untuk bereksplorasi dengan alam dan tidak berani mengambil resiko.

Pada umumnya anak-anak lebih kritis, lebih cerdas dan kuatnya rasa ingin tahu. Terkadang pertanyaan mereka di luar dari perkiraan orang dewasa, sehingga diperlukan penjelasan yang mampu ditangkap oleh nalar  mereka. Maka dari itu, kita sebagai orang tua harus lebih cerdas lagi dengan menambah literasi baik itu digital atau pengetahuan parenting.Mengajarkan sebuah kebaikan kepada anak butuh teladan, motivasi dan pembiasaan. Mereka butuh contoh dalam melakukannya bukan sekadar kata-kata. Nasihat singkat dari Nabi yang agung dan bijaksana ketika ada orang tua yang memiliki  lima anak yang sulit diatur dan nakal mengadu kepadanya. “wahai orang tua, mulai saat ini ubahlah satu demi satu perilakumu menjadi lebih baik dan sekarang pulanglah, insya Allah anak - anakmu akan berubah menjadi lebih baik.” Sungguh sebuah nasihat yang luar biasa, anak adalah sang peniru ulung. Bagaikan cermin orang tua, anak-anak selalu mengamati, menyimak dan mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Sebuah kisah yang terukir indah di batu nisan mendiang Westminster Abbey, seorang genius, arsitek kerajaan Inggris, 1100 M.  “Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi  ingin mengubah dunia. Lalu seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati dunia tak kunjung berubah maka cita-cita itupun agak kupersempit. Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun , tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Namun, celakanya mereka tidak mau diubah! Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba aku sadari : “Andai saja yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkata inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku, kemudian siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia”

Bagaikan sebuah kupu-kupu, anak-anak perlu waktu untuk bisa bermetamorfosis menjadi manusia-manusia yang luar biasa di masa depan. Butuh proses dalam membentuk sebuah karakter yang kelak menjadi kepribadianya sehingga dibutuhkan extra kesabaran karena akan ada pemberontakan ketika apa yang mereka inginkan dibatasi atau tidak bisa mereka dapatkan. Juga dibutuhkan apresiasi dalam setiap perubahan kebaikan sekecil apapun dan pemberian reward namun hanya sesekali untuk sebuah perubahan besar karena kita tidak ingin anak kita menjadi sosok yang materialistis. Bahkan diberikan punishment jika dibutuhkan agar proses perubahan itu berkesinambungan.

Setiap anak itu unik, makhluk paling canggih yang diciptakan Allah dengan potensinya masing-masing. Kenali gaya belajar dan potensinya lalu fokuslah pada kelebihannya bukan pada kekurangannya. Kerap kali orang tua malah melakukan intervensi berlebihan yang justru melukai perasaan si anak untuk memenuhi obsesi orang tua. yaitu membebaninya dengan les tambahan yang mungkin tidak disukai atau tidak dibutuhkan.

Kita hidup pada zaman kita dan anak kita hidup pada zamannya maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya. Peran Ayah dan Ibu memiliki porsi yang sama dalam mendidik anak dan perlu kerjasama yang baik diantara keduanya.  Mulailah sejak dini membuat kebiasaan baik di rumah dengan mengganti kebiasaan menonton dengan literasi dan bercengkrama dengan anak. Mengatur pola penggunaan gadget kepada anak yang belum membutuhkan kalaupun harus menggunakan gadget harus dengan pendampingan. Membangun komunikasi dengan anak sedini mungkin agar mereka terbiasa terbuka dan mau menyampaikan apa yang mereka inginkan dan siap menerima nasihat dari orang tua jika keinginan mereka tak terpenuhi. Komitmen dan konsisten dalam membuat aturan dan kebiasaan serta membangun kerja sama dengan guru agar pembiasan itu selaras antara di rumah dan sekolah sehingga anak terbiasa dengan aturan tersebut.

Yang utama adalah selalu mendoakan anak-anak kita agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat dan mampu mengajak orang lain dalam kebaikan. Sesungguhnya merekalah guru kita yang mengingatkan apa yang kita ucapkan selaraskah dengan apa yang kita lakukan, merekalah guru kecil yang tak akan menghakimi jika kita terlupa satu, dua atau berkali-kali melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Merekalah guru kecil yang mengajarkan kita untuk mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain bahkan melupakan setiap amarah orang dewasa terhadapnya.

Guru kecil yang mengajarkan bahwa setiap makhluk ciptaan Allah mempunyai keunikan dan keunggulannya masing-masing. Jika ingin menjadi sahabatnya berpikir dan bergayalah seperti anak-anak bukannya mereka yang di minta berpikir dan bergaya seperti orang dewasa.

Oleh : Wuri Relistiani, S.Pd

======================================================================================

A Little Teacher

Children's world is colorful and diverse. In an age of instant and digital, it takes qualified knowledge in shaping his personality. A big challenge in educating children from the past until now, with information media that can be reached anytime and anywhere makes parents have a lot to learn to master information and communication technology. Do not be able to provide the latest facilities but unable to accompany and control it. Sadly, parents hope that the child's educational growth and development can be achieved instantly and fully handed over to be the responsibility of teachers at school even though they have to pay dearly. Whereas the participation of parents in the child's growth and development process is very important and is expected to be more up to date with information circulating in order to filter out what is appropriate and not appropriate for children to know.

Educating children is not as easy as turning the palm of the hand, it takes knowledge, experience and a long process and endless patience. Need for collaboration between parents and teachers in schools in building character because the environment is one of the factors forming personality. The world of children's play in the 80s-90s is very different from now, Formerly playing outside the home, chatting with friends, exploring the natural surroundings without fear of falling, dirty or injured. Being able to get to know all the friends in the home environment, even though sometimes they disagree and even fight, it doesn't matter. Because they indirectly learn to socialize, think, get to know other people's characters, and deal with problems and try to solve them. The role of parents who support children's activities to play more outside than inside the home is very helpful in the process of growth and development.

Meanwhile, children of the millennia era with just one touch of their fingers can be cool to play without the need to drain energy and a lot of conversation with others, as well as excessive worry from parents if their children play outside the home. As a result, the lack of social relations of children to friends around them, tend to be individualistic, afraid to explore with nature and not dare to take risks.

In general children are more critical, smarter and stronger curiosity. Sometimes their questions are beyond the expectations of adults, so they need an explanation that can be captured by their reasoning. Therefore, we as parents must be smarter by increasing literacy, be it digital or parenting knowledge. Teaching a goodness to children requires example, motivation and habituation. They need examples in doing so, not just words. A brief advice from the great and wise Prophet when there were parents who had five unruly and mischievous children complained to him. "O parents, from now on change one by one your behavior for the better and now go home, God willing, your children will change for the better." What a wonderful advice, the child is the master copycat. Like a mirror of parents, children always observe, listen and digest every thing we do.

A story beautifully carved into the tombstone of the late Westminster Abbey, a genius, architect of the British empire, 1100 AD "When I was young and free of imagination, I dreamed of wanting to change the world. Then along with my age and wisdom, I found that the world had not changed, so even those ideals narrowed. Then I decided to just change my country. However, it seems that desire even then no results. When my age was getting late, with my spirit left, I decided to change my family, the people closest to me. However, unfortunately they do not want to be changed! And now, as I lay on my deathbed, I suddenly realized: "If only the first thing I changed were myself, by making myself a role model, maybe I could change my family. Then say their inspiration and encouragement, maybe I can improve my country, then who knows I can even change the world ”

Like a butterfly, children need time to be able to metamorphose into extraordinary humans in the future. It takes a process in forming a character that will become his personality so that extra patience is needed because there will be rebellion when what they want is limited or they cannot get. It also requires appreciation in every slightest change of goodness and rewards, but only occasionally for a big change because we don't want our children to be materialistic. Punishment is even given if needed so that the process of change is sustainable.

Every child is unique, the most sophisticated creature created by God with their respective potential. Recognize learning styles and their potential, then focus on strengths rather than weaknesses. Often parents even make excessive interventions that actually hurt the child's feelings to fulfill the parents' obsessions. i.e., burden it with additional tutoring that may not be liked or needed.

We live in our day and our children live in their day so educate our children according to their time. The role of father and mother has the same portion in educating children and needs good cooperation between the two. Start early at making good habits at home by replacing viewing habits with literacy and chatting with children. Setting the pattern of using gadgets to children who do not need it even if they have to use gadgets must be accompanied. Establish communication with children as early as possible so that they are accustomed to being open and willing to convey what they want and are ready to accept advice from parents if their desires are not fulfilled. Commitment and consistency in making rules and habits and building cooperation with teachers so that the refraction is in harmony between at home and school so that children are accustomed to these rules.

The main thing is to always pray for our children so that they will become useful individuals and be able to invite others to be kind. Indeed they are our teachers who remind what we say in harmony with what we do, they are little teachers who will not judge if we forget one, two or many times violating the rules that have been agreed upon. They are little teachers who teach us to easily forgive and forget the mistakes of others and even forget every adult's anger towards them.

Little teacher who teaches that every creature created by God has its own uniqueness and superiority. If you want to be his best friend, think and act like children instead of those who are asked to think and style like adults.

By: Wuri Relistiani, S.Pd